Tampilkan postingan dengan label atmosfer bumi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label atmosfer bumi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Desember 2016

Proses Terjadinya Hujan Meteor


Di siang hari yang cerah ini Saya akan menjelaskan bagaimana proses terjadinya hujan meteor yang selama ini merupakan fenomena yang jarang terjadi dan jarang dapat kita lihat dengan mata telanjang. Mari kita secara seksama menyikapi artikel di bawah ini..

Jika Anda pernah melihat ada bintang yang sangat terang bergerak sangat cepat bahkan ada yang seolah-olah jatuh ke bumi, Fenomena bintang jatuh ini disebut meteor. Kadang ada kalanya meteor-meteor ini muncul dalam jumlah yang banyak dan tampak berasal dari satu titik di langit. Fenomena ini disebut hujan meteor (meteor shower).

Meteor juga merupakan sebutan yang biasa kita gunakan untuk menyebut sesuatu hal yang jatuh dari luar angkasa. Meteor ini disebut juga sebagai bintang jatuh. Sedang hujan digunakan untuk menyebut sesuatu yang jatuh dalam jumlah yang banyak atau lebih dari satu. Hujan meteor ini merupakan meteor yang jatuh dan melewati permukaan bumi dalam jumlah yang banyak, sehingga dari permukaan bumi akan dilihat oleh manusia seolah seperti hujan yang turun. Hal inilah yang disebut sebagai hujan meteor.

Hujan meteor ini merupakan fenomena alam yang menakjubkan. Hujan meteor ini merupakan sebuah fenomena alam yang bisa diprediksi kapan terjadinya. Terjadinya hujan meteor ini dapat diprediksi oleh para ilmuwan secara periodik. Terjadinya hujan meteor ini tidak dapat dilihat oleh semua wilayah yang ada di bumi, Dan hujan meteor ini hanya dapat disaksikan oleh sebagian wilayah di Bumi.

Hujan meteor ini hanya terjadi pada sewaktu-waktu tertentu dan tidak selalu sama antara satu dengan lainnya. Hujan meteor ini ternyata mempunyai nama yang berbeda- beda. Nama setiap hujan meteor ini disesuaikan dengan radiannya. Radian sendiri merupakan sebuah titik yang mana seolah- olah menjadi pusat daripada hujan meteor yang sedang terjadi tersebut. Radian ini bisa berada di sebuah rasi bintang tertentu. Rasi bintang inilah yang digunakan untuk menamai hujan meteor.

Dalam setahun, ada 10 hujan meteor yang jumlah meteor per jam-nya di atas 10. Hujan-hujan meteor ini disebut major shower sedang hujan-hujan meteor yang lebih kecil disebut minor shower. Jika jumlah meteornya sangat banyak hingga di atas 10 ribu per jam maka fenomenanya disebut badai meteor (meteor storm) seperti badai meteor Leonid yang terjadi pada 16/17 Nopember 1966. Ketika itu jumlah meteornya mencapai 200 ribu dalam satu jam.

Tingkat aktivitas hujan meteor dinyatakan dalam zenithal hour rate (ZHR) yang didefinisikan sebagai jumlah meteor dalam satu jam yang akan diamati oleh seorang ahli pengamat saat kondisi langit tanpa awan dan benar-benar gelap dengan arah datang meteor tepat di atas kepala pengamat (disebut zenith). ZHR selalu lebih besar daripada jumlah yang sebenarnya teramati.

Agar lebih mudah untuk dipahami mengenai terjadinya hujan meteor ini, berikut dijelaskan hal- hal yang berkaitan dengan proses terjadinya hujan meteor.


  • Hujan meteor terjadi ketika Bumi melewati puing- puing dari komet. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa bumi ini mengalami suatu gerakan atau aktivitas mengelilingi matahari (gerakan ini juga disebut dengan revolusi bumi). Dalam pergerakan mengelilini matahari, bumi mempunyai sebuat jalur yang disebut dengan orbit. Suatu saat, bumi yang berada di orbitnya melewati puing- puing yang tersisa dari komet yang telah mengalami kehancuran. Dan dari sinilah proses hujan meteor bisa terjadi.
  • Orbit bumi yang bersinggungan dengan orbit komet. Tidak hanya Bumi, komet inipun mempunyai orbitnya sendiri. Orbit komet berbentuk lebih lonjong daripada orbit bumi. Beberapa komet mempunyai orbit yang bersinggungan dengan orbit bumi. Inilah kondisi selanjutnya yang menyebabkan terjadinya hujan meteor.
  • Komet yang terlihat mempunyai ekor karena melewati matahari. Kita perlu mengetahui mengapa komet mempunyai ekor dan tampak seperi hujan ketika berjumlah banyak. Sebenarnya inti dari komet adalah partikel debu dan kotoran padu, sehingga ketika melewati matahari akan menjadi panas dan lama- lama akan menjadi hancur serta menghasilka ekor. Ekor inilah yang menyebabkan kommet terlihat panjang dari Bumi.
  • Puing- puing dari inti komet yang hancur ketika melintasi orbit bumi akan terlihat seperti hujan. Inilah puncak dari hujan meteor yang terjadi. Jadi, inti komet yang melintasi matahari dan mengalami kencuran diikuti oleh puing- puing berbatu yang mayoritas terdiri atas partikel berukuran seperti pasir. Nah puing- puing ini akan terbakar ketika sampai di atmosfer bumi. Karena terbakar maka akan menghasilkan cahaya yang apabila dilihat dari bumi akan menyerupai hujan.


Namun ada bahayanya juga, Jika terjadi hujan meteor maka dapat mengganggu bahkan merusak satelit yang sedang beroperasi. Walaupun ukurannya kecil, partikel-partikel debu memiliki laju yang sangat tinggi (mencapai 70 km/dtk untuk hujan meteor Leonid) sehingga mampu merusak lensa, cermin, atau bagian-bagian lain yang rapuh pada satelit.

Selain itu, tumbukan dengan komponen satelit (misalnya panel surya) bisa membangkitkan awan bermuatan listrik (disebut awan plasma) yang mampu mengakibatkan hubungan singkat antar komponen satelit seperti yang dialami oleh satelit Olympus pada 1989.

Tidak perlu dikhawatirkan ada anggota hujan meteor yang menghantam permukaan bumi sebab pada umumnya debu-debu tersebut habis terbakar di atmosfer karena ukurannya yang kecil.

Nah, Demikianlah penjelasan Saya mengenai proses terjadinya hujan meteor semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi Anda dan seluruh pembaca untuk menambah pengetahuan kita semua, Terima kasih..


Jumat, 11 November 2016

Proses Terbentuknya Awan



Langit yang cerah berhias awan yang indah. Awan sendiri akan tampak seperti gula kapas yang manis yang bergumpal – gumpal cantik. Awan akan tampak berwarna putih ketika cuaca sedang cerah, dan akan tampak berwarna gelap atau hitam ketika mendung akan hujan. Awan sendiri tidak selalu bergumpal, namun ada juga yang kadang tersebar tipis, berbentuk seperti sisik ikan, atau bergaris-garis seperti serat.

Awan memang sangat indah, namun kadang juga ia selalu berubah – ubah karena berbagai faktor, bisa karena angin, ataupun pengaruh cuaca yang sedang di alami. Menurut saya sendiri awan yang menghisasi langit di siang hari bagaikan lukisan yang sangat indah, apa lagi ketika melihat terpampangnya awan awan cantik di ujung pantai dengan menatap matahari yang terbenam.

Pembentukan awan tidak terlepas dari proses kondensasi yang pengertiannya adalah proses perubahan uap air menjadi air atau larutan. Perubahan uap air menjadi larutan terjadi setelah uap air tersebut di atmosfer mengalami proses pendinginan. Selama proses pendinginan akan dilepaskan  panas laten yang dikandung oleh uap air ke udara dan sekitarnya. Panas laten tersebut merupakan penyumbang energi ke atmosfer yang cukup besar.

Kondensasi dapat terjadi melalui beberapa cara dengan proses dalam pembentukan awan sebagai berikut :

1. Udara yang bergerak ke atas akan mengalami pendinginan secara adiabatik sehingga kelembaban nisbinya (RH) akan bertambah, tetapi sebelum RH mencapai 100 yaitu sekitar 78 kondensasi telah dimulai pada inti kondensasi yang lebih besar dan aktif. Perubahan RH terjadi karena adanya penambahan uap air oleh penguapan atau penurunan tekanan uap jenuh melalui pendinginan.

2. Tetes air kemudian mulai tumbuh menjadi tetes awan pada saat RH mendekati 100 Karena uap air telah digunakan oleh inti-inti yang lebih besar dan inti yang lebih kecil kurang aktif tidak berperan maka volume tetes awan yang terbentuk jauh lebih kecil dari jumlah inti kondensasi.

3. Tetes awan yang terbentuk umumnya mempunyai jari-jari 5 – 20 mm. Tetes dengan ukuran ini akan jatuh dengan kecepatan 0,01 – 5 cm/s sedang kecepatan aliran udara ke atas jauh lebih besar sehingga tetes awan tersebut tidak akan jatuh ke bumi. Bahkan jika kelembaban udara kurang dari 90 Maka tetes tersebut akan menguap. Untuk dapat jatuh ke bumi tanpa menguap maka diperlukan suatu tetes yang lebih besar yaitu sekitar 1 mm (1000 mikrometer), karena hanya dengan ukuran demikian tetes tersebut dapat mengalahkan gerakan udara ke atas (Neiburger, et. al., 1995).

Jadi perbedaan antara tetes awan dan tetes hujan adalah pada ukurannya. Jika sebuah awan tumbuh secara kontinyu, maka puncak awan akan melewati isoterm 0 °C. Tetapi sebagian tetes-tetes awan masih berbentuk cair dan sebagian lagi berbentuk padat atau kristal-kristal es jika terdapat inti pembekuan. Jika tidak terdapat inti pembekuan, maka tetes-tetes awan tetap berbentuk cair hingga mencapai suhu -40 °C bahkan lebih rendah lagi.

Awan (clouds) dalam atmosfer terbentuk karena titik taraf kondensasi telah tercapai yakni setelah sampai ke titik jenuh uap air. Munculnya gejala awan merupakan indikator dinamika cuaca yang disebabkan oleh tercapainya  pengembunan atau kondensasi pada suhu tertentu. Untuk menjatuhkan uap air dari tempat yang relatif lebih tinggi di atmosfer diperlukan proses pendinginan dan kehadiran inti-inti kondensasi.

Selanjutnya air yang sudah berkondensasi tersebut kemudian berbentuk bintik-bintik air yang tampak menjadi awan. Awan merupakan kumpulan bintik-bintik air yang melayang-melayang di udara setelah mengalami kondensasi (kejenuhan) dengan ukuran yang masih relatif kecil (sekitar 100 um).

Awan juga merupakan petunjuk yang baik atau dari kondisi cuaca, misalnya jika terjadi awan dan hujan bagi orang penerbangan disebut cuaca buruk dan sebaliknya bila mana cerah disebut cuaca baik. Pada dasarnya ada tiga hal penting yang harus dipenuhi agar uap air yang ada diudara dapat berbentuk menjadi butir-butir air dan seterusnya menjadi hujan, yaitu adanya uap air, adanya inti-inti kondensasi dan adanya proses  pendinginan.

Bila kondisi tersebut terpenuhi maka proses kondensasi terjadi dan dalam sistem atmosfer bumi akan terbentuk salah satu atau lebih dari hasil proses tersebut, yang menghasilkan embun, frost, kabut dan awan. Embun dan frost adalah salah satu bentuk hasil kondensasi yang sering terjadi pada pagi hari atau sepanjang malam pada keadaan udara tenang (kecepatan angin lemah) dan langit cerah (perawanan rendah).

Kabut adalah salah satu bentuk hasil kondensasi diatmosfer. Sedangkan Awan hampr sama dengan embun, frost dan kabut, awan terbentuk melalui proses kondensasi. Perbedaanya adalah pada ketinggian terjadinya awan. Awan dapar berupa buti-butir air atau kristal es yang cukup ringan untuk melayang-layang di udara dan bergerak megikuti arus angin. Berdasarkan uraian diatas, maka awan memiliki peranan yang sangat  penting :

1.Selain berfungsi sebagai unsur cuaca/iklim.
2.Sebagai pengendali cuaca karena bertindak sebagai sumber air bagi terjadinya hujan.
3.Dalam neraca radiasi dan panas karena merupakan pemantul yang baik terhadap radiasi surya.
4.Sebagai penyerap yang baik terhadap radiasi bumi.

Nah demikianlah ulasan saya tentang proses terbentuknya awan, Semoga ulasan saya ini, bisa menambah pengetahuan anda dan seluruh pembaca artikel blog ini. Terima kasih..

Kamis, 03 November 2016

Proses Terjadinya Pelangi




Tentunya Anda sering kali mendengar kata Pelangi dan bahkan Anda sudah pasti pernah melihat fenomena Pelangi yang terjadi di langit ketika turun hujan. Tapi tahukah Anda bagaimana proses terjadinya Pelangi? Nah, kali ini kita akan membahas bagaimana proses terjadinya Pelangi.

Pelangi adalah fenomena alam yang berupa optik dan meteorologi yang memiliki warna-warni indah yang sejajar yang ada dilangit. Pelangi terbentuk melewati proses pembelokkan cahaya atau yang di sebut dengan pembiasan, proses pembiasan pada pelangi akan tertata secara struktur dan akan menghasilkan warna-warni indah pada pelangi.

Bagaimana proses terjadinya Pelangi ? Berikut adalah penjelasannya :

Pelangi akan terjadi apabila cahaya mengalami pembiasan ketika cahaya matahari terkena air hujan. Pelangi hanya dapat dilihat pada saat hujan dan disertai cahaya matahari bahkan posisi pengamat juga menentukan yaitu diantara hujan dan sinar matahari lalu sinar matahari ada dibelakang pengamat sehingga akan terjadi garis lurus antara matahari, pengamat, dan busur pelangi dan akan terbentuk lah menjadi pelangi dari hasil proses pembiasan tadi.

Proses terjadinya pelangi dapat kita telusuri melalui dua pendekatan ilmiah. Pertama yaitu tentang optik (cahaya) dan kedua adalah gelombang. Dua pendekatan ini tidak boleh terlepas dalam membahas proses terjadinya pelangi.

Adapun jika kita kerucutkan maka konsep fisika yang berhubungan dengan proses terjadinya pelangi adalah refraksi (pembiasan), refleksi (pemantulan), dispersi (penghamburan) dan spektrum gelombang elektromagnetik.

Secara fisika, pelangi merupakan satu-satunya gelombang elektromagnetik yang dapat dilihat oleh kasat mata. Berbeda halnya listrik yang tidak dapat dilihat oleh mata bentuk gelombang elektromagnetiknya.

Sehingga bisa juga dikatakan pelangi merupakan suatu gejala optik dan meteorologi (cuaca) yang terjadi secara alamiah (tanpa rekayasa) dalam atmosfir bumi yang mana melibatkan cahaya matahari sebagai sumber cahaya, pengamat (manusia) dan tetesan air hujan (medium).

Ketika cahaya matahari muncul disaat hujan telah berhenti, maka cahaya tersebut akan menembus tetesan air hujan (refraksi) yang di udara.

Tetesan air hujan dan udara memiliki indeks bias yang berbeda sehingga cahaya matahari akan merambat melalui udara menuju tetesan air hujan yang akan mengalami pembiasan cahaya (penjelasan dapat dilihat dibawah ini).

Penjelasan dari proses terjadinya pelangi :

1. Pembiasan Sinar Matahari. Pelangi terbentuk karena adanya pembiasan sinar matahari (cahaya) yang dibelokkan berpindah tempat ke arah lain dari perjalanan satu medium ke medium lainnya oleh tetesan air yang ada di atmosfer.

2. Sinar matahari melewati tetasan air. Ketika cahaya matahari melewati tetesan air maka cahaya tersebut akan dibengkokkan sehingga akan membuat warna-warna tersebut berpisah dengan warna lainnya.

3. Pembelokkan cahaya. Setiap warna-warna pelangi akan dibelokkan pada sudut yang berbeda sehingga akan memberikan warna yang indah pada pelangi.

4. Terbentuklah warna pelangi. Warna yang akan pertama di belokkan adalah warna ungu, sedangkan warna terakhir yang akan di belokkan adalah warna merah serta akan menyusul warna pelangi lainnya yaitu jingga, kuning, hijau, biru, dan nila maka kita akan melihat warna pelangi secara utuh yang disebabkan oleh geometri optik dalam proses penguraian warna.

Selain itu, timbul pertanyaan dalam benak kita mengapa muncul beraneka ragam warna pada Pelangi?

Prosesnya berawal dari cahaya matahari karena cahaya matahari memiliki beberapa warna yang memiliki peran penting dalam pembentukan pelangi. Cahaya matahari tersebut dinamakan polikromatik yang ketika melewati tetesan air hujan akan terurai menjadi sinar monokromatik (warna-warni) dan setiap warna memiliki spektrum dan panjang gelombang yang berbeda.

Pelangi secara utuh hanya dapat dilihat jika sedang berada diatas udara atau berada di pesawat. Seorang ilmuwan bernama Sir Isac Newton menyelediki cahaya putih yang ada pada pelangi. Dan ia menyimpulkan bahwa cahaya putih itu dapat menghasilkan spektrum warna pelangi.

Warna pelangi umumnya bisa terlihat oleh manusia ada 7 warna yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu yang akan muncul pada langit yang disebut dengan cahaya tampak.

Cahaya matahari yang telah terurai akan mengalami pemantulan saat mengenai dinding tetesan air hujan dan sebagiannya akan menembus ke luar tetesan air hujan.

Dari sinilah yang nantinya sinar monokromatik akan mengalami pembiasan cahaya saat keluar dari tetesan air hujan dan arah pembiasaanya akan berbeda-beda.

Pembiasan ini terjadi karena cahaya mengalami perubahan indeks bias dari udara ke air. Proses pembiasan inilah yang disebut refraksi cahaya.

Aneka warna yang dibiaskan memiliki panjang gelombang yang berbeda. Rentang panjang gelombangnya dimulai dari 400 nm – 700 nm. Panjang gelombang yang dapat dijangkau oleh penglihatan manusia yaitu warna ungu dan merah.

Gradasi warna ungu dan merah memiliki rentang panjang gelombang tertinggi dan terendah. Yang kemudian kita asumsikan panjang gelombang yang tertinggi menuju rendah antara lain ungu, nila, biru, hijau, kuning, jingga dan merah. Susunan ini yang kemudian kita sebut dengan pelangi.








Minggu, 23 Oktober 2016

Sejarah Terjadinya Laut Di Permukaan Bumi


Laut atau disebut sebagai Bahari adalah sebuah kumpulan air asin yang luas dan merupakan bagian dari samudera raya yang tersebar luas di permukaan bumi yang memisahkan atau menhubungkan benua dengan benua lain dan sebuah pulau dengan pulau lainnya. Air laut merupakan campuran dari 96,5% air murni dan 3,5% material lainnya seperti garam, gas-gas terlarut, bahan-bahan organik dan partikel-partikel yang tidak terlarut.

Menurut Sejarah, Laut terbentuk 4,4 miliar tahun yang lalu, yang awalnya sangat asam dengan air mendidih (dengan suhu sekitar 100 ° C) karena pemanasan bumi pada saat itu.Sifat air asam laut terjadi dikarenakan pada saat itu atmosfer bumi dipenuhi oleh karbon dioksida sehingga menyebabkan tingginya pelapukan dan menyebabkan laut menjadi asin seperti saat ini.Saat itupun gelombang Tsunami sering terjadi karena asteroid sering menghantam bumi. air pasang laut yang terjadi pada saat itu bertype mamut atau tinggi/besar karena jarak bulan sangat dekat dengan bumi.

Menurut para ahli penelitian kelautan, yang mengemukakan tentang awal mula terjadinya laut adalah bahwa pada saat itu Bumi mulai mendingin akibat berkurangnya aktivitas vulkanik, disamping itu atmosfer bumi juga tertutup oleh debu-debu vulkanik yang menyebabkan terhalangnya sinar matahari untuk masuk ke bumi.Akibatnya uang air di atmosfer mulai terbentuk pengembunan dan terjadilah hujan. Air hujan inilah yang mengisi cekungan-cekungan di permukaan bumi sehingga terbentuklah sebuah lautan.

Secara perlahan-lahan, jumlah karbon dioksida yang ada di atmosfer mulai berkurang akibat terlarut dalam air laut dan bereaksi dengan ion karbonat membentuk kalsium karbonat. Akibatnya, langit mulai menjadi cerah sehingga sinar matahari dapat kembali masuk menyinari bumi dan mengakibatkan terjadinya proses penguapan sehingga volume air laut di bumi juga mengalami pengurangan dan bagian-bagian di bumi yang awalnya terendam air mulai kering (daratan).
Lalu proses pelapukan batuan terus berlanjut akibat hujan yang terjadi dan terbawa ke lautan, menyebabkan air laut semakin asin seperti saat ini.

Pada sekitar 3,8 milyar tahun yang lalu, planet bumi mulai terlihat biru karena laut yang sudah terbentuk. Suhu bumi semakin dingin karena air di laut berperan dalam menyerap energi panas yang ada, namun pada saat itu diperkirakan belum ada bentuk kehidupan di bumi.

Menurut para ahli,kehidupan di bumi berawal dari lautan dengan ditemukannya fosil seukuran beras dari bakteri primitif yang diperkirakan hidup di dalam lumpur mendidih di dasar laut pada tahun 1971 di bebatuan Afrika Selatan ( saat itu di perkirakan berusia 3.2 - 4 milyar tahun lamanya).

Hal ini mungkin menjawab pertanyaan tentang bagaimana saat-saat awal terjadinya kehidupan dan di bagian lautan mana yang terjadi awal kehidupan tersebut. Sedangkan kelautan itu sendiri adalah ilmu yang mempelajari berbagai biota atau makhluk hidup di dasar laut yang perlu dimanfaatkan melalui usaha perikanan dan kelautan.tapi tentunya bukanlah hal yang mutlak sebagai jawaban dari sekian banyak para ahli di dunia.

Inilah informasi pengetahuan tentang sejarah awal mula terjadinya laut di bumi.Semoga informasi ini bermanfaat bagi anda dan kita semua.Terima Kasih..