Tampilkan postingan dengan label bintang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bintang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Desember 2016

Proses Terjadinya Hujan Meteor


Di siang hari yang cerah ini Saya akan menjelaskan bagaimana proses terjadinya hujan meteor yang selama ini merupakan fenomena yang jarang terjadi dan jarang dapat kita lihat dengan mata telanjang. Mari kita secara seksama menyikapi artikel di bawah ini..

Jika Anda pernah melihat ada bintang yang sangat terang bergerak sangat cepat bahkan ada yang seolah-olah jatuh ke bumi, Fenomena bintang jatuh ini disebut meteor. Kadang ada kalanya meteor-meteor ini muncul dalam jumlah yang banyak dan tampak berasal dari satu titik di langit. Fenomena ini disebut hujan meteor (meteor shower).

Meteor juga merupakan sebutan yang biasa kita gunakan untuk menyebut sesuatu hal yang jatuh dari luar angkasa. Meteor ini disebut juga sebagai bintang jatuh. Sedang hujan digunakan untuk menyebut sesuatu yang jatuh dalam jumlah yang banyak atau lebih dari satu. Hujan meteor ini merupakan meteor yang jatuh dan melewati permukaan bumi dalam jumlah yang banyak, sehingga dari permukaan bumi akan dilihat oleh manusia seolah seperti hujan yang turun. Hal inilah yang disebut sebagai hujan meteor.

Hujan meteor ini merupakan fenomena alam yang menakjubkan. Hujan meteor ini merupakan sebuah fenomena alam yang bisa diprediksi kapan terjadinya. Terjadinya hujan meteor ini dapat diprediksi oleh para ilmuwan secara periodik. Terjadinya hujan meteor ini tidak dapat dilihat oleh semua wilayah yang ada di bumi, Dan hujan meteor ini hanya dapat disaksikan oleh sebagian wilayah di Bumi.

Hujan meteor ini hanya terjadi pada sewaktu-waktu tertentu dan tidak selalu sama antara satu dengan lainnya. Hujan meteor ini ternyata mempunyai nama yang berbeda- beda. Nama setiap hujan meteor ini disesuaikan dengan radiannya. Radian sendiri merupakan sebuah titik yang mana seolah- olah menjadi pusat daripada hujan meteor yang sedang terjadi tersebut. Radian ini bisa berada di sebuah rasi bintang tertentu. Rasi bintang inilah yang digunakan untuk menamai hujan meteor.

Dalam setahun, ada 10 hujan meteor yang jumlah meteor per jam-nya di atas 10. Hujan-hujan meteor ini disebut major shower sedang hujan-hujan meteor yang lebih kecil disebut minor shower. Jika jumlah meteornya sangat banyak hingga di atas 10 ribu per jam maka fenomenanya disebut badai meteor (meteor storm) seperti badai meteor Leonid yang terjadi pada 16/17 Nopember 1966. Ketika itu jumlah meteornya mencapai 200 ribu dalam satu jam.

Tingkat aktivitas hujan meteor dinyatakan dalam zenithal hour rate (ZHR) yang didefinisikan sebagai jumlah meteor dalam satu jam yang akan diamati oleh seorang ahli pengamat saat kondisi langit tanpa awan dan benar-benar gelap dengan arah datang meteor tepat di atas kepala pengamat (disebut zenith). ZHR selalu lebih besar daripada jumlah yang sebenarnya teramati.

Agar lebih mudah untuk dipahami mengenai terjadinya hujan meteor ini, berikut dijelaskan hal- hal yang berkaitan dengan proses terjadinya hujan meteor.


  • Hujan meteor terjadi ketika Bumi melewati puing- puing dari komet. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa bumi ini mengalami suatu gerakan atau aktivitas mengelilingi matahari (gerakan ini juga disebut dengan revolusi bumi). Dalam pergerakan mengelilini matahari, bumi mempunyai sebuat jalur yang disebut dengan orbit. Suatu saat, bumi yang berada di orbitnya melewati puing- puing yang tersisa dari komet yang telah mengalami kehancuran. Dan dari sinilah proses hujan meteor bisa terjadi.
  • Orbit bumi yang bersinggungan dengan orbit komet. Tidak hanya Bumi, komet inipun mempunyai orbitnya sendiri. Orbit komet berbentuk lebih lonjong daripada orbit bumi. Beberapa komet mempunyai orbit yang bersinggungan dengan orbit bumi. Inilah kondisi selanjutnya yang menyebabkan terjadinya hujan meteor.
  • Komet yang terlihat mempunyai ekor karena melewati matahari. Kita perlu mengetahui mengapa komet mempunyai ekor dan tampak seperi hujan ketika berjumlah banyak. Sebenarnya inti dari komet adalah partikel debu dan kotoran padu, sehingga ketika melewati matahari akan menjadi panas dan lama- lama akan menjadi hancur serta menghasilka ekor. Ekor inilah yang menyebabkan kommet terlihat panjang dari Bumi.
  • Puing- puing dari inti komet yang hancur ketika melintasi orbit bumi akan terlihat seperti hujan. Inilah puncak dari hujan meteor yang terjadi. Jadi, inti komet yang melintasi matahari dan mengalami kencuran diikuti oleh puing- puing berbatu yang mayoritas terdiri atas partikel berukuran seperti pasir. Nah puing- puing ini akan terbakar ketika sampai di atmosfer bumi. Karena terbakar maka akan menghasilkan cahaya yang apabila dilihat dari bumi akan menyerupai hujan.


Namun ada bahayanya juga, Jika terjadi hujan meteor maka dapat mengganggu bahkan merusak satelit yang sedang beroperasi. Walaupun ukurannya kecil, partikel-partikel debu memiliki laju yang sangat tinggi (mencapai 70 km/dtk untuk hujan meteor Leonid) sehingga mampu merusak lensa, cermin, atau bagian-bagian lain yang rapuh pada satelit.

Selain itu, tumbukan dengan komponen satelit (misalnya panel surya) bisa membangkitkan awan bermuatan listrik (disebut awan plasma) yang mampu mengakibatkan hubungan singkat antar komponen satelit seperti yang dialami oleh satelit Olympus pada 1989.

Tidak perlu dikhawatirkan ada anggota hujan meteor yang menghantam permukaan bumi sebab pada umumnya debu-debu tersebut habis terbakar di atmosfer karena ukurannya yang kecil.

Nah, Demikianlah penjelasan Saya mengenai proses terjadinya hujan meteor semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi Anda dan seluruh pembaca untuk menambah pengetahuan kita semua, Terima kasih..


Senin, 14 November 2016

Bagaimana Bisa Terjadinya Peristiwa Siang dan Malam?


Setiap hari kita mengalami perputaran siang dan malam dan seringkali kita hanya menjalani aktivitas kita tanpa pernah ingin tahu bagaimana prosesnya. Perputaran waktu bagi manusia adalah bagian dari perjalanan hidup manusia di Bumi.Tapi bagaimana siang dan malam bisa terjadi? Sederhananya mungkin kita akan menjawab, siang terjadi kala Matahari terbit dan malam menjelang ketika sang surya masuk ke peraduannya. Tapi apa yang menyebabkan demikian? Rotasi Bumi!

Perputaran Bumi pada porosnyalah yang menyebabkan terjadinya siang dan malam. Bagaimana bisa? Bumi kita adalah salah satu planet yang mengitari Matahari dan ia juga mengitari dirinya sendiri. Bumi membutuhkan waktu 24 jam untuk menyelesaikan perputaran pada porosnya, dan inilah yang dikenal sebagai 1 hari bagi manusia.

Selama 24 jam waktu Bumi berputar mengitari porosnya, ada kalanya sebagian wajah Bumi berhadapan dengan Matahari dan inilah area yang mengalami siang.  Dan kemudian seiring dengan perputaran Bumi, wajah yang tadinya berhadapan dengan Matahari kemudian berputar dan membelakangi Matahari sehingga sisi wajah Bumi yang tidak disinari Matahari ini mengalami malam hari.

Sejak Bumi terbentuk 4,5 milyar tahun yang lalu, selalu ada separuh bagian Bumi yang terpapar cahaya Matahari dan mengalami siang serta separuh lagi yang tidak dan mengalami malam. Namun karena Bumi berputar pada porosnya (disebut gerak rotasi), semua wilayah di Bumi jadi mengalami siang dan malam secara bergantian. Sebenarnya ada banyak bintang dan terkadang ada bulan purnama yang menerangi langit malam. Namun kondisinya tetaplah gelap karena cahaya seluruh benda langit tersebut tidaklah cukup kuat untuk mengubah malam hari menjadi terang benderang.

Gerakan berputar Bumi pada porosnya atau yang sering disebut rotasi Bumi, mengakibatkan permukaan Bumi yang terkena sinar Matahari berubah bergantian sejalan dengan kecepatan Bumi berputar. Permukaan Bumi yang terkena sinar Matahari akan mengalami keadaan terang atau siang dan sebaliknya, yang tidak terkena sinar Matahari akan mengalami keadaan gelap atau malam.

Bumi yang berotasi menyebabkan terjadinya siang dan malam. Gerak Bumi sebenarnya bukan hanya rotasi saja, tetapi ada satu gerak lagi yang disebut revolusi (gerak mengelilingi Matahari). Dalam mengelilingi Matahari, Bumi tidaklah berotasi dengan tegak melainkan sedikit miring (sekitar 23,5 derajat). Kemiringan tersebut menyebabkan tidak seluruh permukaan Bumi mendapatkan panjang siang dan malam yang sama dalam waktu satu tahun.

Bagi sebagian orang, mungkin akan berpikir mataharilah yang tampak bergerak di langit sehingga terbit di timur dan tenggelam di barat. Pada kenyataannya ini disebabkan oleh perputaran Bumi.  Matahari tampak terbit di Timur karena Bumi bergerak ke arah timur dan menuju ke barat ketika Matahari tampak terbenam.  Kalau dilihat dari Kutub Utara, maka perputaran Bumi ini tampak berlawanan arah jarum jam dan kita akan melihat kalau siang dan malam menyapu bola Bumi dari Timur ke Barat.

Tapi ada yang menarik!. Bagi kita yang hidup di ekuator Bumi, panjang siang dan malam bisa dikatakan hampir sama yakni rata-rata 12 jam. Dan berbagai lokasi di bumi juga “mengalami” rata – rata disinari Matahari 12 jam per harinya.  Tapi, panjang siang hari yang dialami di lokasi-lokasi tertentu pada waktu tertentu di sepanjang tahun sebenarnya berbeda. Ada kalanya suatu lokasi di utara / selatan mengalami siang / malam yang panjang. Apa yang menyebabkannya?

Kita tahu bahwa Bumi berputar pada porosnya dan perputaran itu menyebabkan terjadinya siang dan malam. Tapi, poros atau sumbu Bumi ini ternyata memiliki kemiringan 23,5º. Sudut kemiringan tersebut dihitung dari perpotongan bidang ekuatorial Bumi dan bidang orbit Bumi terhadap Matahari.  Kemiringan poros Bumi ini juga memberi pengaruh pada musim di Bumi dan menyebabkan terjadinya perubahan musim (panas, dingin, gugur dan semi)

Ketika Bumi bergerak mengelilingi Matahari, porosnya ini akan mengarah ke titik yang sama di angkasa. Di bola langit, titik itu berada dekat  dengan Polaris si Bintang Utara. Artinya akan ada saat dimana salah satu belahan Bumi yang 23,5º lebih dekat ke Matahari atau lebih jauh dari Matahari selama Bumi mengitari sang Surya selama 365,25 hari atau 1 tahun.

Ada saatnya ketika kutub utara Bumi kemiringannya lebih dekat ke Matahari dan pada saat ini bumi belahan utara lebih banyak mendapat sinar Matahari. Tanggal 20 atau 21 Juni merupakan titik balik musim panas atau summer solstice yang menandai awal musim panas di Belahan Bumi Utara sekaligus siang terpanjang di belahan utara atau titik musim dingin bagi belahan selatan.  Sementara di kutub selatan, kemiringan poros Bumi menempatkannya menjauh dari Matahari sehingga di area ini mengalami musim dingin dengan siang yang lebih pendek.

Pada bulan Desember, kemiringan kutub utara justru menjauh dari Matahari dan kali ini giliran kutub selatan yang lebih dekat ke Matahari sehingga area belahan selatan mengalami musim panas dan mengalami siang yang panjang. Sedangkan di Utara mengalami sebaliknya yakni musim dingin dengan panjang siang yang pendek. Titik balik musim dingin atau winter solstice bagi Bumi belahan utara biasanya terjadi tanggal 21 atau 22 Desember yang sekaligus juga menjadi titik balik musim panas bagi belahan selatan.

Dua kali dalam setahun, 21 Maret dan 23 September, saat Matahari di Ekuinoks (perpotongan dua garis ekliptika dan ekuator langit),  maka lamanya siang dan malam akan sama yaitu masing-masing 12 jam. Ketika di ekuinoks, poros Bumi tidak mengarah ke Matahari. Titik balik musim semi atau vernal equinox di Bulan Maret juga merupakan penanda transisi dari malam selama 24 jam ke siang selama 24 jam di kutub Utara.

Dan titik balik musim gugur atau autumnal equinox di bulan September menjadi penanda kutub utara akan memasuki malam yang panjang ketika Matahari tidak pernah terbit sedangkan di kutub selatan akan mengalami masa sebaliknya yakni ketika Matahari tidak pernah tenggelam.

Kemiringan sumbu rotasi Bumi menyebabkan empat musim di negara yang terletak jauh dari ekuator. Di bagian kutub-kutub Bumi bahkan terjadi hal yang lebih ekstrim. Siapapun yang tinggal di sana akan mengalami siang hari yang terjadi selama 6 bulan dan malam hari yang terjadi selama 6 bulan juga. Itulah mengapa di kutub sangat dingin dan ada banyak es. Jadi, sungguh menguntungkan karena kita tinggal di Indonesia yang berada di sekitar ekuator.

Nah itu para sobat pembaca blog ini, mengapa bisa terjadinya peristiwa siang dan malam… semoga bermanfaat…Terima kasih..

Proses Terjadinya Gerhana Bulan



Pengertian gerhana bulan adalah peristiwa matahari, bumi, dan bulan terletak pada satu garis atau sejajar sehingga bayangan bumi menutupi sebagian atau keseluruhan bulan. Proses terjadinya gerhana bulan dari wikipedia adalah saat bumi berada di antara matahari dan bulan pada satu garis yang sama. Akibatnya, sinar matahari tidak sampai ke bulan karena terhalang oleh bumi.  

Bulan merupakan satelit bumi dimana keberadaannya selalu mengitari bumi. Hampir semua planet di galaksi kita ini mempunyai satelitnya masing- masing. Bahkan beberapa planet di tata surya memiliki satelit alam yang jumlahnya lebih dari satu. Dan satelit yang dimiliki planet bumi hanya berjumlah satu, yakni yang kita kenal dengan sebutan bulan ini.

Selain menjadi satelit bumi, bulan ini juga berperan sebagi sumbel cahaya alami bagi bumi pada waktu malam hari dimana pada waktu malam hari matahari tidak kelihatan sinarnya untuk menerangi bumi. Maka dari itu sumber cahaya alami yang kita miliki adalah bulan dan juga bintang- bintang yang bertebaran di langit.

Sebenarnya bulan ini tidak bisa mengeluarkan cahayanya sendiri, karena bulan bukan termasuk bintang. Cahaya yang bersumber dari bulan merupakan cahaya dari matahari yang mengenai bulan, sehingga bulan tampak seperi bercahaya pada waktu malam hari. sedangkan pada siang hari, bulan yang disinari oleh matahari terlalu kalah dengan sinar matahari yang mengenai bumi sehingga bulan tersebut menjadi tidak kelihatan.

Bila kita nikmati dari sisi estetika atau keindahan, gerhana bulan ini adalah peristiwa yang indah sekali. Pemandangan yang dihasilkan dari peristiwa gerhan bulan ini dapat dijadikan objek fotografi yang sangat indah. Terlebih jika gerhana bulan terjadi pada saat kondisi langit sedang cerah. Hal ini akan dimanfaatkan banyak fotografer untuk mengabadikan momen berharga ini.

Meskipun euforia datangnya gerhana bulan ini tidak seheboh dibandingkan euforia pada saat terjadi gerhana matahari, namun antusias masyarakat untuk meihatnya pun tidak kalah dengan saat terjadi gerhana matahari. Faktor yang menjadikan gerhana bulan tidak seheboh gerhana matahari antara lain karena gerhana bulan ini terjadi pada malam hari sehingga peristiwa agung ini tidak terlalu terlihat mencolok seperti gerhana matahari yang terjadi pada pagi atau siang ataupun sore hari disaat sunia terang oleh sinar matahari.

Hal selanjutnya yakni karena kita lebih sering menyaksikan gerhana bulan bila dibandingkan dengan gerhana matahari karena gerhana bulan ini dapat teramati pada sebagian bumi pada waktu malam hari. Meskipun demikian, tetap saja gerhana bulan ini menjadi momen langka yang mengundang masyarakat untuk menyaksikan dan juga mengabadikan keindahannya.

Proses terjadinya gerhana bulan ini lebih lama jika dibandingkan dengan matahari, meskipun perbedaan waktunya hanya beberapa menit saja. Seperti halnya gerhana matahari,

Proses terjadinya gerhana bulan ini  sebagai berikut :


  • Dimulai ketika bulan yang bersinar terang tiba-tiba tertutup sedikit demi sedikit oleh bayangan hitam. Bayangan hitam tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah bayangan dari bumi sendiri.
  • Setelah itu lama-kelamaan bulan yang bulat tadi akan tertutup semakin lama semakin banyak hingga bulan hanya terlihat sebagian dan semakin lama bumi akan terlihat meyabit.
  • Setelah mulai menjadi menyabit, lama- kelamaan bulan akan tampak menghilang karena tertutup penuh oleh bayangan bumi. Ketika saat inilah kita tidak dapat melihat bulan dan bulan seperti menghilang.
  • Setelah bulan tertutup semua dan tampak seperti menghilang, kemudian kita akan menyaksikan bulan kembali muncul dari arah yang pertama kali bulan itu menghilang. Munculnya bulan ini dimulai dari bentuk bulan tersebut sabit, setelah itu bulan tersebut semakin lama akan semakin kelihatan dan menjadi setengah, dan semakin lama akan semakin utuh sehingga tampak lagi seperti semula.


Itulah beberapa proses terjadinya gerhana bulan ini dari awal hingga akhir. Gerhana bulan sendiri ketika terjadinya akan membutuhkan waktu beberapa menit hingga berjam lamanya. Ketika terjadi gerhana bulan ini masyarakat biasanya akan menyaksikan dari menghilangnya bulan dari bagian sedikit sampai munculnya bulan kembali hingga utuh seperti sedia kala.

Banyak orang yang berantusias untuk menyaksikan proses terjadinya gerhana bulan ini pada saat terjadi gerhana bulan. Namun tahukah Anda bagaimana cara untuk melihat gerhana bulan ini dengan jelas? Setiap tahunnya. Diperkirakan gerhana bulan bisa terjadi hingga sejumlah lima kali. Namun gerhana bulan total lebih jarang terjadi daripada gerhana bulan sebagian maupun penumbra.

Jika terjadi gerhana matahari, kita tidak boleh melihat dengan mata telanjang atau melihat secara langsung tanpa menggunakan alat pengaman. Namun berbeda halnya dengan gerhana bulan. Pada saat melihat gerhana bulan, kita diperbolehkan melihat secara langsung atau dengan menggunakan mata telanjang tanpa menggunakan alat pengaman. Hal ini karena sinar dari bulan tidak mengandung radiasi kuat seperti yang dimiliki oleh matahari. Sehingga manusia yang ada di bumi bisa melihatnya dengan aman.

Ada cara- cara tertentu untuk dapat menikmati gerhana bulan ini agar terlihat jelas, yakni dengan menggunakan alat- alat tertentu. alat yang dapat digunakan untuk melihat gerhana bulan ini agar terlihat jelas adalah teropong dan juga teleskop. Dengan menggunakan teropong dan juga teleskop maka kita akan lebih jelas melihat prosesi gerhana bulan ini.

Sabtu, 29 Oktober 2016

Mengapa Bintang Itu Dapat Bercahaya Dan Berkelip Dengan Sendirinya?




Bintang adalah benda langit luar angkasa yang memiliki ukuran besar dan memancarkan cahaya sebagai sumber cahaya. Coba tataplah langit disaat matahari sudah tidak ada lagi disinggasananya. Tataplah disaat langit begitu cerah.  Maka kita akan melihat bulan dan bintang-bintang yang bertaburan seolah permata yang berserakan. Bintang-bintang tersebut berkerlap-kelip seolah mengedipkan mata dengan membisikkan kedamaian kepada kita. Selain itu juga berbagai warna yang dipancarkan membuat kita bertanya, siapakah yang menuangan warna pada bintang tersebut? itulah keagungan Sang Pencipta yang menjaga apa yang ada dilangit dan apa yang ada dibumi tanpa lelah.

Ada terdapat berjuta-juta bintang di angkasa. Bintang terbuat dari bola-bola gas bersuhu tinggi yang bercahaya, yang terdiri dari benda masif(bermassa antara 0,08 hingga 200 massa matahari) sehingga terjadi pembangkitan energi melalui reaksi fusi nuklir. Oleh karena itulah bintang dapat bersinar atau bercahaya karena sinarnya sendiri. Berbeda denga bulan yang mendapatkan cahaya karena pantulan dari sinar matahari. Bintang juga terkadang tampak berkelap-kelip. Hal tersebut disebabkan adanya udara yang membengkokkan sinar bintang, sehingga kelihatan kelap-kelip.

Para astronom berpendapat bahwa alam semesta ini mempunyai banyak gugusan bintang atau sering disebut dengan galaksi. Galaksi merupakan kumpulan bintang, planet, dan awan gas (nebula). Bintang yang sudah tua biasanya mati dan kemudian meledak. Ledakan  itu dapat menyebabkan awan gas di galaksi yang tenang menjadi bergerak cepat berputar-putar seperti cakram dan menjadi terpusat ditengah cakram. Gas tersebut berkumpul menjadi gumpalan gas raksasa. Didalam gumpalan gas raksasa, gas terus bergerak dan bertabrakan dan tekanan serta  suhu gas menjadi amat panas sehingga mengeluarkan energi yang tinggi berupa cahaya. Saat gumpalan gas menjadi bercahaya inilah, para astronom menamainya “BINTANG”.

Bintang tercipta di dalam awan molekul, dimana molekul tersebut adalah sebuah daerah medium antarbintang yang luas dengan kerapatan yang tinggi (walaupun masih kurang rapat jika dibandingkan dengan sebuah vacuum chamber yang ada di Bumi). Pada umumnya awan ini terdiri dari hidrogen dengan sekitar 23–28% helium dan beberapa persen elemen berat. Komposisi elemen dalam awan ini tidak banyak berubah sejak peristiwa nukleosintesis Big Bang pada saat awal alam semesta.

Dan pada saat kita melihat bintang mungkin kita pernah melihat bintang itu berwarna-warni ada yang berwarna merah, kuning, biru, dan putih. Mungkin pernah terbersit dihati kita sebuah tanda tanya, Mengapa demikian? Sebenarnya warna bintang tersebut sama seperti besi yang dipanaskan. Apabila besi dipanaskan akan berubah menjadi warna merah, kemudian putih, dan apabila besi dipanaskan sangat panas sekali maka akan berwarna biru.

Di langit, bintang-bintang selain Matahari sebenarnya bertebaran juga pada siang hari. Namun, karena sangat jauh dari Bumi, mereka tidak tampak karena cahayanya terkalahkan oleh cahaya Matahari.

Penampakan bintang tidak lepas dari sinar Matahari dan pengaruh atmosfer Bumi kita ini. Pada siang hari, molekul-molekul gas seperti nitrogen, oksigen, argon, dan uap air menyebabkan cahaya Matahari yang terdiri dari berbagai variasi panjang gelombang terserap sampai ke Bumi. Cahaya yang terserap ini akan teradiasikan sehingga menghasilkan spektrum warna.

Maka dari proses tersebut bintang dapat menghasilkan berbagai jenis warna disebabkan karena temperatur bintang itu sendiri yag berbeda. Semakin panas bintang maka warnanya akan semakin biru sama seperti api. Api ada yang berwarna biru, putih, dan merah. Api yang berwarna merah tidak terlalu panas sehingga apabila digunakan untuk memasak maka akan lama masakan tersebut matang. Tetapi jika kita memasak dengan api biru maka masakan akan cepat matang.

Lalu bagaimana dengan bintang yang berkerlip? Bintang yang kita lihat dilangit sering berkerlap-kelip. Bintang berkelap-kelip karena cahayanya harus melalui kantung atmosfer Bumi dalam suhu dan kepadatan beragam. Pada waktu tertentu, bintang konsisten berganti posisi.

Hal itu seperti melihat koin menari di dasar kolam. Para astronom mencoba mengatasi 'kerlipan’ ini menggunakan optik adaptif, berupa cermin kecil yang secara konsisten menyesuaikan diri untuk menghalau gangguan atmosfer.

Mereka juga menggunakan teleskop ruang angkasa untuk melakukan pengamatan. Teleskop yang mengorbit Bumi di atas atmosfer dapat menghindari masalah yang disebabkan turbulensi.

Di sisi lain, planet umumnya tak bersinar. Planet-planet di tata surya kita lebih dekat ke Bumi daripada bintang-bintang yang kita lihat. Jadi planet sedikit lebih besar dalam bidang visi kita.

Menurut para astronom, karena planet terlihat lebih besar, maka cahaya yang mencerminkannya menjadi kurang bergeser. Namun, planet bisa tampak berkerlip ketika atmosfer mengalami gejolak luar biasa.Bintang berkelap-kelip karena cahayanya harus melalui kantung atmosfer Bumi dalam suhu dan kepadatan beragam. Pada waktu tertentu, bintang konsisten berganti posisi.

Nah, dengan informasi artikel ini yang bertopik "Mengapa Bintang Itu Dapat Bercahaya Dan Berkelip Dengan Sendirinya?",  semoga Anda dan seluruh pembaca blog ini dapat menambah pengetahuan tentang benda-benda di luar angkasa.

Rabu, 26 Oktober 2016

Pengertian Tentang Alam Semesta

 Alam Semesta adalah alam yang merupakan suatu ruangan atau selungkup dengan bumi yang datar sebagai lantainya dan langit beserta bintang sebagai atapnya. Jadi, alam semesta itu bisa di artikan suatu ruangan yang  sangat besar yang di dalamnya terdapat kehidupan yang biotik dan abiotik, serta di dalamnya terjadi segala peristiwa alam baik yang dapat diungkapkan oleh manusia mahupun yang tidak.

kata “alam” memiliki arti segala yang ada di langit dan di bumi (seerti bumi, bintang, kekuatan). Sedangkan kata “semesta” berarti seluruh; segenap; semuanya: semua yang ada di alam – tidak dapat lepas dari takdirnya masing-masing; (berlaku untuk) seluruh dunia, universal.

Alam semesta itu terdiri dalam berbagai aspek, termasuk tenaga dan radiasi serta hal yang telah diketahui dan baru dalam tahap percaya bahawa pasti ada di antariksa. Bumi, planet-planet dan matahari yang termasuk dalam alam semesta hanyalah merupakan titik kecil di antara lebih dari 200 juta bintang penyusun galaksi bimasakti. Matahari merupakan satu di antara bermilion-milion bintang di alam semesta dan kemungkinan setiap bintang mempunyai susunan tata surya seperti tata surya matahari. Perhitungan sampai ke angka 200 miliyar bintang baru untuk sebuah galaksi.

Awalnya para ilmuan astronom menetapkan bahwa manusialah yang sebagai pusat, yang diberi nama teori egosentris. Setelah itu mereka menetapkan bumi yang menjadi pusat yang ditokohi oleh Cladius Ptolemeus. Teori ini dikenal dengan geosentris. Namun setelah itu Nicolas Copernicus mengungkap teori baru di mana matahari dijadikan pusat alam semesta, heliosentris. Namun saat ini mereka baru menyadari bahwa teoritersebut lebih cocok digelayutkan pada tata surya. Dan tata surya hanyalah sebagian dari galaksi, dan galaksi adalah satu kumpulan bintang dari banyak kumpulan bintang di alam semesta.

Pengertian alam semesta mencakup tentang mikrokosmos dan makrokosmos. Mikrokosmos adalah benda-benda yang mempunyai ukuran sangat kecil, misalnya atom, elektron, sel, amuba, dan sebagainya. Sedang makrokosmos adalah benda-benda yang mempunyai ukuran yang sangat besar, misalnya bintang, planet, dan galaksi.

Alam semesta, menurut orang Babylonia (kuranglebih 700-600 SM), merupakan suatu ruangan atau selungkup dengan bumi yang datar sebagai lantainya dan langit beserta bintang sebagai atapnya. Jadi, alam semesta atau jagat raya adalah suatu ruangan yang maha besar yang di dalamnya terdapat kehidupan yang biotic dan abiotik, serta di dalamnya terjadi segala peristiwa alam baik yang dapat diungkapkan manusia maupun yang tidak.

Di abad 19, gagasan yang umum adalah bahwa alam semesta merupakan kumpulan materi berukuran tak hingga yang telah ada sejak dulu kala dan akan terus ada selamanya sampai sekarang ini.




Bagaimana Terbentuknya Matahari ?



Bagaimana Proses Terbentuknya Matahari? ika Anda ingin jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini, dengan membaca artikel ini mudah-mudahan akan menjadi pengalaman yang mencerahkan. Proses pembentukan Matahari adalah yang pertama dari serangkaian peristiwa penciptaan jagad raya. Baca terus, untuk mengetahui bagaimana bola api yang dahsyat itu menyala.

Matahari adalah poros sentral di seluruh sistem tata surya kita. Sejak zaman dahulu, dari awal peradaban manusia, Matahari disembah sebagai sumber energi, kehidupan, dan harapan. Tidak ada pemandangan yang bisa dibandingkan dengan keindahan Matahari merah, muncul saat fajar dalam segala kemuliaan. Pemikiran semakin meningkat, Matahari memancing rasa ingin tahu dari dalam diri kita, bagaimana bola api super besar ini terbentuk.

Matahari terbentuk dari awan gas dan debu yang mengerut. Partikel gas di tepi luar awan itu, atau nebula, mulai jatuh ke pusat, dan gravitasi partikel-partikel ini bersama-sama menarik atom lebih banyak lagi. Selama 10 juta tahun, awan gas itu bertambah mampat dan panas. Kemudian suatu perubahan penting terjadi pada intinya. Karena tarikan gravitasi, tekanan yang makin besar memaksa inti-inti atom berpadu dalam proses fusi nuklir, dan mengeluarkan energi sangat besar. Begitu api intinya menyala, Matahari telah menjadi bintang

Berikut ini adalah beberapa proses terbentuknya Matahari :

1. Runtuhan Awan Gas Dipengaruhi Tekanan Gravitasi
Semua struktur besar yang pernah dibuat di alam semesta dipengaruhi oleh gravitasi. Sekitar 6 miliar tahun yang lalu, awan Hidrogen besar ultra dingin, yang berisi sisa-sisa bintang mati dari masa lalu, runtuh di bawah tekanan gravitasi. Sisa-sisa bintang sebelumnya terkandung di gumpalan awan campuran debu dan gas (Nebula) ini, dalam bentuk elemen berat yang disintesis menjadi komposisi bintang, yang bisa disebut pendahulu Matahari. Alam semesta terus mendaur ulang materi-materi sepanjang waktu.
Jadi, awan gas dan debu antarbintang mulai runtuh di bawah pengaruh gravitasi. Runtuhnya ini telah dipicu oleh ledakan supernova terdekat atau peristiwa lain dengan output energi tinggi. Karena elemen berat yang mengandung gas ini mulai runtuh, maka energi potensial gravitasi mengubahnya menjadi energi panas dan gas hingga terus mengembang.

2. Tarikan Gravitasi
Selagi nebula terus berputar, gravitasi menarik materi ke pusat. Atom gas yang tertarik jatuh ke tengah menuju inti semakin banyak, sehingga kemampatan dan suhu terus meningkat. Akibatnya, inti dalam yang panas mulai memijar.

3. Hampir Menjadi Bintang
Dengan mengerut lebih jauh lagi, inti yang cerah itu mengecil sampai kira-kira 50 kali ukuran Matahari sekarang. Atom-atom terus jatuh ke dalam inti, dan di situ gravitasi yang sangat kuat memampatkannya menjadi sangat padat.

4. Sebuah Bintang Lahir
Setelah mengecil terus selama 10 juta tahun, Matahari muda menjadi mantap pada ukuran sedikit di atas ukurannya sekarang. Suhu intinya telah mencapai 10 juta° Kelvin dan reaksi inti pun mulai.

5. Matahari sekarang
Pada umurnya sekarang 4,6 miliar tahun, Matahari telah membakar kira-kira setengah hidrogen dalam intinya. Pembakaran ini akan terus berlangsung lima miliar tahun lagi.

Jadi ini adalah proses terciptanya Matahari yang berasal dari debu dan gas dari bintang sebelumnya. Matahari awal ini memiliki cakram yang memutar materi di sekitarnya, yang akhirnya terkondensasi ke dalam sistem tata surya, seperti yang kita tahu saat ini.